#Renungan: Ikhlas…


Banyak orang bertanya-tanya tentang bedanya ikhlas, pasrah, dan nyerah. Banyak cara untuk mempelajari hal tersebut, dan setiap orang akan mengalaminya dalam hidupnya.

Tapi jika diingat, ada sebuah cerita konyol yang saya dengarkan sambil tidak kuat menahan tawa. Tiap orang disekeliling saya pun juga ikutan terbahak jika kami bersama mengenang cerita tersebut.

Seorang Guru ditanya oleh murid kesayangannya.

Murid : “Guru, sebenarnya bedanya Ikhlas, tulus, sama tidak berharap itu sama ngga?”

Guru : Sontak menjawab, “Sama aja kamu nanya apa bedanya api, geni, fire, dan agni…Le. Tahu maksudnya?”

Murid : “Oalah. Ngerti Guru. Lha kalau bedanya iklhas, pasrah dan nyerah, kira-kira apa Guru?” Tanyanya lebih dalam.

Guru : “Hmmm. Lha menurutmu apa Le?” Sang guru bertanya balik.

Murid : Kebingungan, sang murid menjawab, “Lah saya nanya ko ditanya balik Guru?”

Guru : “Lah kamu ikhlas ngga saya tanya balik? Apa mau pasrah ngga punya jawabannya? Atau mau nyerah gitu aja, nghga mau nyari tau dulu.” Sang Guru sambil meminum seteguk air di cangkir kecilnya.

Murid : “Ampun Guru. Lha saya bingung sama pertanyaan. Saya nanya ke Guru karena ngga tahu Guru. Bisakah dibantu jawabannya?”

Guru : “Waduh, masih belum ngerti toh??. Ya wis, kamu kalau mau belajar iklhlas ngga usah jauh-jauh. Mulai dari diri sendiri dulu Le. ” Lanjut Gurunya tersenyum dan berdiri dari kursi goyangnya.

Murid : “Waduh saya tambah munyeng Kyai…puyeng dengernya ko ngga ketemu jawabannya malah bingung.” Sambil memegang kepalanya.

Guru : “Ya udah, pikirkan baik-baik ya, besok kembali ketemu saya.” Sang Guru yang Kyai pondok itu berlalu.

Murid : “Ta…Tapi Kyai…saya bener mau belajar…saya ikhlas disuruh ngapain aja deh Kyai.” Sambil mengayunkan kedua tangannya bermohon pada Kyai.

ridha

Guru : “Oalah Le…Le…Ya wis, Ikhlas itu ibarat kamu tahu tangan klirimu tahu buat “Cawik”  dan tidak ngiri dengan yang kanan yang sering disebut “Tangan baik”. Lanjut sang Kyai semakin jauh.

Murid : “Lah Kyai…piye tho iki…Saya bisa kenthir ini Kyai kalo diginiin.”

Guru : “Hehehe…Tak tambahi wis…Ikhlas itu…bagaimana makanan dan minuman yang masuk dari mulutmu, keluarnya lewat anusmu tidak lagi sama bentuk, aroma dan rasanya seperti awal mula dimasukkan ke dalam mulutmu. Tegese, lupakan saja apa itu ikhlas, lakukan saja apa yang jadi bagianmu, jangan berharap dan berhitung karena Tuhan lebih tahu mana yang baik buat kamu.”

Sang Guru berlalu, sang murid masih saja garuk-garuk kepala. Ikhlas bukan sebuah definisi memang, ikhlas ya ikhlas.

JIka dalam sebuah agama menerangkan tentang bagaimana seharusnya memberi, silakan belajar dari cerita diatas. Usahakan memberi ya memberi saja, tidak mengharapkan dan menghitung. Tuhan Maha Tahu segala sesuatunya. Maha Terpuji  Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s