#Renungan: Kisah Penjual Tempe


jualtempe

Suatu hari, matahari mulai menyongsong, sejengkal demi sejengkal menapaki langit biru, tampak lebih siang dari biasanya seorang penjual tempe yang bernama Ibu Darsih ini untuk mulai menggelar dagangan tempe buatannya yang khas di pasar. Sedangkan pedagang yang lain jauh lebih pagi buta menggelar dagangannya di pasar dengan harapan belum sampai matahari di atas kepala, mereka sudah dapat pulang lebih awal dengan membawa hasil dari habis-nya dagangan mereka karena diserbu para pembeli.

Ibu Darsih nampak kaget setelah menggosok kedua matanya yang masih nampak sipit karena baru bangun.

“Masya Allah”, celetuknya.

“Ya ampun, aku terlambat bangun, dan ini baru pertama kalinya dalam hidupku…dan lagi, aku belum sholat subuh”, tambahnya kemudian. Lalu Ibu Darsih bergegas menuju kamar mandi dan mulai berwudlu dan berlanjut melaksanakan sholatnya.

Dalam doanya, “Ya Allah, Engkaulah Sang Maha Pengasih lagi Penyayang, maafkan hamba karena saking capeknya hamba membuat tempe semalaman, hamba jadi tertidur pulas dan akhirnya bangun kesiangan. Namun Yaa Allah, hamba tahu bahwa Engkaulah Maha Pemberi Rizki, maka jadikanlah laku dagangan hamba, sehingga hamba dapat membuat tempe untuk keesokan harinya, dan sebagiannya untuk memenuhi kewajiban hamba, sodaqoh dan untuk biaya hidup keluarga hamba. Terima kasih yaa Allah…Amin”.

Lalu bergegas Ibu Darsih menuju dapur usai sholatnya. Dia nampak sibuk mempersiapkan peralatan dagangnya dan tentu saja tempe khas buatan Ibu Darsih untuk dimasukkan dalam keranjang dagangnya. Dia memegang salah satu tempe, dan berkata pada tempe itu, “Wahai tempe buatanku, lakulah hari ini karena Allah, dan bawalah padaku jumlah rupiah yang berarti bagiku.” Lalu dengan senyum khasnya seperti ketika sedang menghadapi langganannya, Ibu Darsih lalu membuka daun pembungkus tempe dari daun pisang itu perlahan dan….,”Astagfirullah….apa yang terjadi dengan tempe ini…kenapa sudah semalaman aku membuatnya namun sudah siang seperti ini masih berupa kedelai…” Ibu Darsih sontak kaget dan berdetak kencang jantungnya sambil melihat matahari semakin meninggi.Ibu Darsih terlihat kawatir dan ketakutan. Akan tetapi Ibu Darsih yang terkenal sebagai seorang yang santun, sabar dan rajin beribadah ini kemudian tidak putus asa. Ibu dari empat orang anak ini menengadahkan tangannya Lalu berdoa, “Yaa Allah yang Ghaffur, sungguh hamba takut kepada Engkau dan hamba memohon ampuni hamba dan jauhkanlah hamba dari kekawatiran hamba. Dengan seluruh keyakinan hamba memohon padaMu Yaa Allah Yang Maha Pemurah, rubahlah kedelai ini menjaddi tempe, Terimakasih Ya Allah. Amin”.

Ibu Darsih bergegas menutup kembali bungkus tempe yang masih berwujud kedelai itu. Dengan penuh keyakinan, Ibu Darsih memijat sebungkus tempe tadi, sambil berharap Allah pasti merubahnya menjadi tempe. Setelah beberapa saat persiapan berangkat ke pasar telah selesai, dengan penuh keyakinan dan harapan, Ibu Darsih membuka kembali bungkus tempe tadi dan…, “Astagfirullah Yaa Allah…tempe ini belum berubah…”. Sekali lagi Ibu Darsih menutup kembali bungkus tempe tadi, lalu dipijat-pijatnya lagi tempe tadi. “Ah, mungkin aku tadi kurang serius dalam berdoa dan memohon pada Allah…coba aku ulangi…” lanjut bu Darsih sambil kemudian meletakkan tempe tadi dan menengadahkan tangannya kembali seraya berdoa, “Yaa Allah hamba mohon ampun jikalau tadi hamba kurang bersungguh-sungguh dalam memohon pada Engkau. Yaa Allah, hari ini matahari sudah mulai meninggi dan hamba terlambat, tempe hamba pun belum jadi, masih berwujud kedelai Yaa Allah. Yaa Allah Yang Maha Mushowirru, berikanlah pertolongan dan rubahlah kedelai-kedelai ini sehingga berwujud tempe sehingga hamba dapat segera berangkat ke pasar untuk menjualnya. Terima kasih Yaa Allah. Amin”, tutupnya seperti itu dan Ibu Darsih segera mengambil tempe yang lain dan segera membuka bungkus tempenya, “Bismillahirrohmanir Rohim…” begitu ucapnya sembari membuka bungkus tempe tadi.

“Aku meyakini bahwa Allah itu Maha Besar, mungkin DIA akan merubah kedelai-kedelai ini menjadi tempe dalam perjalananku menuju pasar. Bismillahirrohmanir rohim…hamba berangkat Yaa Allah…berikanlah pertolongan kepada hamba…”, dengan bergegas Ibu Darsih berangkat ke arah pasar dengan memanggul dagangannya. Ibu yang sudah berumur ini nampak tergesa-tegesa dan sedikit berlari kecil, pikirnya siang hari sangatlah sulit bagi pedagang untuk menjual dagangannya hingga habis, namun dia masih tetap teguh keyakinannya bahwa Allah akan merubah kedelai tadi menjadi tempe ketika tiba di pasar nanti.

Setibanya di pasar, ada sedikit perasaan gusar menyelimuti perasaan Ibu tua ini. Dia melihat beberapa pedagang telah menutup gelaran dagangannya, beberapa yang lain terlihat tinggal menunggu dagangan tempenya yang tinggal beberapa itu untuk diborong oleh pembeli. Dengan perasaan sedikit takut, Ibu Darsih melewati pedagang-pedagang yang datang lebih awal tadi dan menyapa mereka. Terdengar salah satu pedagang yang adalah sahabat bu Darsih menyapa dan bertanya, “Tumben agak siangan tho Bu Darsih? Ayo buruan, takut kesiangan dan nggak ada pembeli lho”. Jawab bu Darsih, “Iya Bu, makasih, tadi malem kecapekan dan tadi bangun kesiangan, sampai lari-lari tadi dalam perjalanan” celetuknya sambil tertawa kecil untuk mengurangi rasa takutnya.

Dalam waktu sekejap Bu Darsih sudah siap dengan gelaran dagangannya. Dan tiba waktunya bagi Bu Darsih untuk membuka salah satu bungkus tempenya. Dia berusaha yakin walaupun dengan sedikit takut menyelimuti. “Bismillahirrohamanir rohim…rubahlah kedelai ini menjadi tempe yaa Allah…”, Nampak tangannya sedikit bergetaran sambil membuka bungkus tempe tadi. Dan akhirnya jantung Ibu Darsih berdegup jauh lebih kencang…napasnya semakin sesak…tempe itu masih saja berwujud kedelai.

Ibu Darsih terlihat pucat dan lemas, matanya pun berair, tidak kuasa menahan kecewa dan kebingungan. Lalu kembali di tengadahkan kedua tangan yang kulitnya mulai keriput itu, kepalanya menunduk lemas, dilanjutkannya dengan kembali berdoa, “Yaa Allah, bagaimanapun wujud tempe ini, jika Engkau menghendakinya seperti ini, maka ini adalah hal yang terbaik bagi Engkau. Sungguh betapa hamba memiliki keterbatasan dan ketakutan, sedangkan Engkau pasti memberikan yang terbaik bagi hambamu ini. Maafkan hamba yaa Allah, jika ini adalah yang Engkau kehendaki, maka Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati, jagalah hati hamba dari ketakutan dan jauh dari Engkau. Terimakasih Yaa Allah. Amin”.

Waktupun berlalu, dagangannya belum laku, hari semakin siang, matahari semakin terik. Suara kecil serak-nya tak berhenti menawarkan dagangannya. Sambil jujur dia menawarkan tempenya yang belum jadi, tidak ada yang ditutupinya. Ketakutan dan kekawatiran mulai merambah pikiran, namun terus berusaha ditepisnya dengan tetap menawarkan dan terus menawarkan meski tidak nampak orang menghampiri dagangnnya. Pedagang tempe lain pun sudah berpamitan satu per satu kepadanya, namun dia tetap berusaha menjualnya.

Sampai pada satu satu waktu disiang itu melihat seseorang dari kejauhan. Ibu ini melihat sesosok Ibu setengah baya berjalan, ibu pembeli ini hanya mampir dan melihat dagangan disekelilingnya, namun tidak membelinya. Seolah  mencari sesuatu dan bertanya-tanya kepada pedagang lain yang tersisa. Telihat berbincang sesaat, dan nampak kepala para pedagang bergeleng menandakan mereka tidak memiliki barang dagangan yang dimaksudkan si Ibu pembeli ini dan justru menunjuk kearah tempat pedagang tempe membuka lapak jualan.

Setelah beberapa saat, akhirnya tiba juga Ibu pembeli ini pada gelaran dagangan Ibu Darsih. Dengan penuh senyum dan mata sedikit sembab, ibu Darsih bertanya dengan santun kepada si Ibu pembeli, “Maaf Ibu, ada yang dapat saya bantu? Ibu mau membeli tempe kah?”.

“Iya Ibu, terima kasih. Tempenya kok masih banyak Bu?” tanya ibu pembeli itu kembali.

“Iya Ibu, masih banyak. Jika Ibu mau beli, maafkan saya Bu, tempe saya masih berupa kedelai, mungkin jadinya nanti malam atau besok bahkan”, jawab bu darsih dengan jujur sembari menunjukkan salah satu bungkus tempenya.

“Alhamdulillah…akhirnya ketemu juga.” Jawab ibu pembeli itu dengan senangnya.

Bu Darsih jadi bingung, pikirnya mana mungkin kedelai yang belum jadi tempe ini yang dicari ibu ini. Penasaran Ibu Darsih kembali bertanya, “Lho, kebetulan bagaimana Bu, maaf saya jadi bingung”, sambil tersenyum  si Ibu Darsih bertanya lagi.

“Alhamdulillah Ibu, kebetulan bapak saya adalah penggemar tempe, beliau suka banget sama tempe. Tapi bapak saya kebetulan tinggal di desa, jauh banget dari kota. Kemarin bapak saya meminta saya untuk membelikan tempe yang banyak dan meminta saya memasak tempe yang dari kota, kata bapak pengen banget makan tempe dari kota, karena beliau besok mau datang dengan Ibu saya, begitu ceritanya Ibu” jawab ibu pembeli.

“Nah, kebetulan tempe-tempe ibu ini masih berupa kedelai, jadi pas sekali dengan yang saya cari. Karena mau saya kirim ke desa yang lumayan jauh. Takutnya kalau sudah berwujud tempe malah jadi busuk dan tidak segar”, tambah ibu tadi.

“Alhamdulillah Yaa Allah, terima kasih, ternyata masih ada yang mau membeli tempe ini”, dalam hati ibu Darsih sambil mengusap wajahnya. Lanjutnya, “Ibu mau beli berapa bungkus Bu?”

Sambil melihat dagangan ibu darsih yang masih rapi dan bersih, ibu pembeli ini kembali bertanya, ”Harga perbungkusnya berapa ibu?”

“Murah kok Ibu, harganya saya turunkan karena tempenya belum jadi, biasanya saya jual seribu rupiah perbungkusnya Ibu. Karena belum jadi, saya menjualnya dengan harga yang lebih murah, takut mengecewakan konsumen. Harganya delapan ratus rupiah saja per bungkusnya, Ibu. Jadi Ibu mau beli berapa bungkus?” jawab bu Darsih.

“Oh ibu ini bisa aja buat saya senang, kalau begitu, tolong saya dibungkuskan semua tempe yang ada ya Bu, maklum mau buat masak untuk bapak saya yang datang dari desa. Jadi semua dagangan ibu saya borong.” Jawab Ibu Pembeli.

Nampak kaget dan sangat gembira, Ibu Darsih tersenyum dengan bahagianya lalu segera membungkus semua tempe dagangannya yang belum jadi tadi dalam satu kantong plastik besar. Ibu Darsih pun berkata, “Terima kasih banyak ya Bu, ibu mau membeli tempe-tempe yang saya buat meskipun dalam keadaan belum jadi.”

Sambil tertawa, ibu pembeli menjawab, “Iya ibu, sama-sama, kebetulan juga saya sedang mencari tempe yang belum jadi. Ini Ibu uangnya, tolong diterima ya.”

“Iya ibu sebentar saya ambil kembaliannya”, jawab bu Darsih sambil merogoh uang kecil dalam dompetnya sebagai uang kembalian. Lanjutnya, “Maaf bu, saya tukarkan uang dulu ya bu, dekat kok, di warung sebelah itu, soalnya saya belum punya uang kembalian maklum Bu belum laku dari tadi”, menunjukkan wajahnya sambil tersenyum.

Belum Ibu Darsih menyegerakan berlari menuju warung sebelah, sang ibu pembeli menjawab, “oh gitu ya Bu, kalau begitu, kembaliannya buat ibu saja dan keluarga di rumah, saya tidak apa-apa. Kembaliannya ibu ambil ya, buat ibu”, jawab ibu itu penuh senyum sembari membalikkan badan dan berjalan kembali keluar pasar.

Ibu Darsih memanggil-manggil ibu tadi, “Ibu…ibu…maaf saya tidak berani ambil rezeki yang besar ini, kembaliannya masih banyak lho Bu.”

“Iya Bu, tidak apa-apa. Kembaliannya buat ibu saja, buat keluarga dan beli bahan tempe besok saja bu. Saya masih ada kok, jadi ibu tidak usah sungkan ya. Terima kasih atas tempenya Ibu.” Ibu itu berlalu sambil tersenyum dan melambaikan tangan pada Ibu Darsih.

Tersentak kaget, Ibu Darsih duduk tertegun, jantungnya bergedup lebih kencang dari sebelumnya. Ibu darsih tidak menyangka, bahwa hari ini, kesulitan-kesulitan yang dilewatinya, doa-doa permintaannya pada Allah, dan akhirnya bertemu ibu pembeli tadi, dan sampai pada uang kembalian tadi yang tidak mau dikembalikan.

Ibu Darsih menutup wajahnya, merasa sangat bahagia, sambil menundukkan kepala, sang Ibu darsih berdoa, ”Alhamdulillah wa syukurrillah Yaa Allah, terima kasih banyak yaa Allah atas hari ini. Hamba yang terlalu berburuk sangka semula pada kedelai-kedelai tadi, tapi Engkau menjawab doa-doa hamba dengan menunjukkan bahwa betapa Maha Pemurah dan Pengasihnya Engkau. Terima kasih yaa Allah…Terima Kasih yaa Allah…Alhamdulillahi rabbil alamin…Amin”…sambil mengusap air mata bahagianya, Ibu Darsih pun berlalu. Beliau pulang dengan penuh kebahagiaan…betapa bahagianya Ibu Darsih…

tempe

Kisah yang mengagumkan bukan? Dari kisah sederhana tadi banyak terkandung makna-makna nilai spiritual religi dan kebaikan bagi kita yang mau mengambilnya bagi kehidupan kita.

Betapa sangat terbatasnya kemampuan yang dimiliki manusia, dan  hal ini dapat dilihat dari kisah Ibu Darsih sang penjual tempe yang belum jadi diatas. Ibu Darsih tidak menyangka bahwa jika kedelai tadi ternyata lebih membawa hasil daripada jika saja kedelai tadi berubah menjadi tempe.

Terkadang manusia memiliki keinginan-keinginan yang diwujudkan dalam kehidupannya. Bagi si manusia, keinginan-keinginan yang ada adalah baik bagi dirinya, tapi, ternyata tidak semua hal yang kita anggap baik dan membaikkan bagi diri kita, juga ternyata baik di hadapan Allah. Belum tentu juga hal-hal yang terkadang kita anggap kurang atau bahkan tidak baik adalah tidak baik pula bagi Allah.

Hikmah dari cerita Ibu Darsih tadi dapat saya simpulkan dengan beberapa nilai. Yang pertama adalah bagi nilai keimanan kita kepada Allah. Allah adalah sang pencipta, dan Dia sungguh Maha Benar, tidak pernah ada kesalahan dalam apa-apa yang Dia kehendaki dan berikan, karena sudah pasti apa yang diberikannya adalah apa-apa yang terbaik bagi diri kita.

  • Hikmah yang pertama, agar manusia dianjurkan untuk tidak melupakan berdoa dan memohon pada Allah, dalam kondisi apapun dan dimanapun. Dalam salah satu ayatNYA yang berbunyi, “Ud’uni astajib lakuum” yang artinya “Berdoalah padaKU niscaya AKU kabulkan”. Menurut kisah di atas, secara manusiawi, kita menganggap bahwa doa ibu Darsih tidak dikabulkan. Ternyata tidak juga. Allah selalu mengabulkan permintaan dan doa setiap hambanya yang bersungguh-sungguh dalam permohonannya. Bukan berarti doa ibu Darsih tadi tidak dikabulkan. Dalam beberapa pendapat, Allah mengabulkan doa tiap hambanya dengan beberapa hal, yakni doa yang dikabulkan dan langsung si peminta langsung mendapatkan jawabannya saat itu juga; doa yang dikabulkan tapi diwujudkan dalam kurun waktu berikutnya atau si peminta menunggu, dan berikutnya, doa yang dikabulkan akan tetapi apa yang telah dimohonkan digantikan dengan perwujudan yang lain, yang menurut Allah jauh lebih baik baginya.
  • Nilai hikmah yang kedua, sudah jelas dari kisah tadi, kesabaran bu Darsih dan doa yang dipanjatkan tidaklah ditolak oleh Allah. Melainkan apa yang menurut bu Darsih baik baginya jika kedelai tersebut berubah menjadi tempe, ternyata berbeda dengan yang dikehendaki Allah. Jikalau berubah menjadi tempe, maka belum tentu tempe itu akan laku semuanya hingga siang hari. Betapa Allah telah memberikan kebaikan dan kebahagiaan bagi bu Darsih dengan tidak merubah kedelai tersebut menjadi tempe, sehingga pada akhirnya justru kedelai itulah yang diborong oleh pembeli. Hal ini menyimpulkan bahwa apa yang bagi kita baik, belum tentu baik bagi Allah.
  • Nilai hikmah ketiga, kita dapat mencontoh kesabaran dan keteguhan tekad dari seorang penjual tempe yang benar-benar pantang menyerah dan memasrahkan dirinya pada Allah. Dengan bersyukur pada apa yang telah diberikan dan pasrah, maka Allah akan menambahkan nikmat bagi kaum yang mau bersyukur dan bersabar.

Demikian dari saya untuk menutup malam ini dan semoga menjadi materi yang membangkitkan semangat dan kesadaran diri untuk dapat lebih bersyukur pada Tuhan. Selamat membaca dan merenungkan kebaikan-kebaikan Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s