#Renungan : Manual vs Automatic


Terlalu banyak mengeluh kita ini. Yah, #otomatis. Semakin tinggi ilmu dan semakin banyak yang kita ketahui justru semakin kita lupa menunduk, lupa seperti pepatah padi yang berisi dan semakin menunduk. Kita tumbuh tua, tapi tidak dewasa, kita tumbuh berduri tapi tidak berbunga, kita sedang tumbuh tanpa manfaat, sementara berjalan dengan bangga.

Instruction Manual

Harusnya, semakin seperti padi, ketika otak dan pikiran kita semakin berisi dengan ilmu dan pengetahuan, semakin menunduk kita. Karena kita tahu, hidup ini berjalan dengan banyak sistem otomatis, tidak seluruhnya #manual dan dipercayakan pada manusia oleh Tuhan.

Hidup kita tidak seperti acara televisi yang bisa kita pilih channel dan diganti sesuka hati. Jika tidak suka, tinggal klik tombol next atau previous, lalu “blammm” siaran pun berganti dengan acara favorit secara #otomatis.

Kita berdoa minta jadi orang yang sabar, maka ujian kesabaranlah yang akan datang. Kita minta jadi orang bermanfaat, maka ujian kemanfaatan dengan berbagilah yang akan kita terima. Kita minta jadi orang yang tulus dan ikhlas, maka siaplah dengan menghadapi kehilangan yang memilukan.

Sama halnya jika kita minta dikayakan harta benda, maka bekerjalah sebaik mungkin. Jika kita minta banyak teman yang baik, maka berbaiklah dan jadi sahabat yang baik sebelumnya. Minta jodoh yang mulia, maka muliakanlah diri dan orang lain supaya jodoh datang. Semua itu, #otomatis.

Yang #manual adalah cuma pada saat anda memilih dan menjalankan. Kedua hal itu murni menggunakan energi kita.

Jadi jangan protes dengan meminta semua hal dimanualkan. Repot. Silakan bayangkan jika jantung, paru-paru dan semua organ penting bekerja secara #manual, mungkin rata-rata dari kita mengaktifkan kinerja jantung pada saat makan siang karena sebagian dari kita pelupa.

Jadi tidak ada sukses yang #otomatis sebelum misi dan visi #manual dibentuk. Impian kita adalah #manual, usaha kita dan doa kita adalah #manual, sementara hasilnya otomatis dihitung dari seberapa besar faktor kalkulasi #manual yang kita hasilkan.

Dan justru karena #otomatis, hidup ini adil. Lulusan SD tidak tamat bisa sekaya professor, dan justru yang lulusan S1 belum tentu seberhasil tamatan SMP. Kembali bergantung seberapa nilai dan faktor kali dan bagi yang kita bawa secara #manual untuk dikalkulasikan.

Otot ditubuh kita adalah #manual, diperintah oleh otak yang #manual, kerjanya #manual namun hasilnya #otomatis. Tergantung bagaimana kita memahami sukses. Karena sukses tidak melulu berjangkau pada hal besar.

automatic1._SR600,180_

Misal kita mau makan. Rasa lapar adalah #otomatis. Sementara usaha kita dalam mencari makan adalah #manual, usaha kita untuk memasukkan makanan ke mulut dan tenggorokan adalah #manual. mengunyah dan menggilingnya adalah #manual, lalu perasaan kenyangnya adalah #otomatis.

JIka kita mulai memahami kinerja #manual dan #otomatis sesederhana ini, kita pastinya akan lebih mengerti, bahwa #sukses itu ada dan dekat dalam kehidupan kita. Dan jika kita mulai mensyukuri #kesuksesan kecil, otomatis Tuhan akan menyiapkan #kesuksesan besar untuk kita, dengan membutuhkan doa dan usaha #manual kita.

Kita mau sukses?

Lakukan usaha #manual berupa doa dan usaha #manual kerja yang terbaik, sisanya biarkan sistem #otomatis Tuhan yang kerjakan. Jangan kerjakan dan pikirkan bagian Tuhan, otak anda yang terlalu penuh dengan #manual instruction, tidak akan pernah mampu menjangkaunya.

Do the bests, Let God do the rests (HIS parts) for you.

#mambathoughts

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s