#SpiritualPath: Spiritual Intelligence for Leadership & Business


download-1

Hidup saat ini berisikan manusia serba hebat yang beriring dunia super cepat, eranya kereta ekspress dan mesin jet, eranya berbincang cukup dengan ketikan beberapa kata lalu  klik”send” dan cling…sudah sampai ke lokasi yang beratus-ratus kilometer…benar-benar ekspress bukan?

Komunikasi serba kaku dengan gaya bahasa parlente. Lulusan universitas dan sekolah tinggi kelas kakap dan biaya tidak ramah kantong, sertifikat-sertifikat bertumpuk pertanda penguasaan keahlian-keahlian yang telah dipelajari. Intelligence kelas wahid, tidak ada keraguan sedikitpun atas faktor keberhasilannya jika dilihat dan diukur secara matematis dan analisis jika mereka nanti handling sebuah proyek atau pekerjaan. Era dimana lebih banyak orang bersaing untuk menjadi yang terbaik dan menjadi pemimpin yang memiliki karakter.

Kepemimpinan dan Spiritualisme

Di negara-negara maju saat ini, telah lahir pimpinan perusahaan dengan keahlian-keahlian super skills yang tidak hanya bermuara pada sekedar kecerdasan saja, physical intelligence. Cukup kaget ketika seorang yang pernah menjadi pemimpin di sebuah mega corporation seperti penemu Apple, Steve Jobs, adalah seorang pemebelajar dan sekaligus ahli Zen-Buddhis, seorang yang spiritualis. Steve pernah belajar psychedelics di India, meditasi kesadaran, dimana dia sering dianggap aneh karena sering berjalan tanpa alas kaki di salju.

Anda yang pernah mendengar tentang bagaimana awal mula kehidupan seorang Big Bos Alibaba group, Jack Ma, mengawali kariernya dari keraguan banyak orang, dari hanya seorang guru bahasa Inggris dengan gaji sangat kecil sekitar $12-$15 dan mencoba untuk melakukan loncatan ke dalam dunia yang berbeda dari apa yang telah dikuasainya, mengajar, setelah sepulangnya dari Amerika.

Sampai akhirnya dia memilih nama Alibaba dengan ejaan pembuka pintu harta karun “Open Sesame” karena keyakinannya perusahaan ini akan go global. Hal ini adalah sebuah perjalanan spiritual dengan cara berpikir spiritual tersendiri bagaimana seseorang dapat merubah haluan hidupnya sampai sedrastis perubahan yang terjadi sekarang. Dan kini di Indonesia, dengan begitu ikonik, dia menjadi seorang yang akan membantu lebih banyak perubahan bisnis ecommerce.

Servant Leadership

Ijinkan saya menyebutkan nama Max DePree yang terkenang dengan tulisannya yang spektakuler: “The first responsibility of a leader is to define reality. The last is to say thank you. In between, the leader is a servant.”

Kemudian saya lanjutkan menyebutkan nama seperti Sam Walton, pendiri Wal-Mart, perusahaan retail terbesar di dunia. Ada juga Mary Kay Ash, pendiri Mary Kay Cosmetics, Inc. dia memiliki julukan “Cosmetics Queen”, “America’s Greatest Woman Entrepreneur” dan “One of Most Influential Businesswoman in History”.

Ada pula Jack Lowe yang adalah pendiri TD Industries, perusahaan kontraktor berdomisili di Dallas, Texas. Pada tahun 1970’an Jack Lowe membaca tulisan Robert Greenleaf. Ia mendistribusikan kopi-kopi dari tulisan Greenleaf ini kepada karyawati-karyawannya, lalu dia mengundang mereka untuk mendiskusikan tulisan itu dalam kelompok-kelompok. Setelah itu semua pegawai yang bekerja sebagai supervisor ke atas harus melalui program pelatihan di bidang servant leadership dan kepada para pegawai baru diberikan satu kopi dari tulisan Greenleaf itu (The Servant as Leader).

Dalam dunia pendidikan kita sangat mengenal bagaimana Ki Hajar Dewantoro memberikan wejangan hebat melalui kalimat: “Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, dan Tut wuri handayani.” Mengajarkan tentang peranan kepemimpinan seorang pendidik ketika menjadi contoh di depan, menjadi sahabat bagi pelajar dan mengerti kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para pelajar ketika berada ditengah-tengah mereka dan akhirnya berada dibelakang mereka untuk memberikan dorongan semangat untuk terus maju mencapai tujuan yang diinginkan.

Lalu ada tokoh-tokoh lain seperti Nelson Mandela, Bunda Theresa, Mahatma Gandhi. Sedangkan dalam tokoh keagamaan, kita memiliki contoh yang sangat hebat, Sang Nabi terakhir dari Islam, Muhammad SAW, dan juga dari agama Budha, Sang Budha Gauthama yang senantiasa memiliki pemikiran-pemikiran bijaksana dan percontohan dari perilaku dalam hidup.

Modern Spiritualism

Uniknya, di zaman ini, dunia bisnis, dunia kerja, benar-benar telah dianggap terpisah dari cara berpikir spiritual. Spiritual dianggap sangat agamis dan kuno. Seolah tabu, perlahan ditinggalkan dan dikesampingkan karena dianggap banyak tidak nyambung dengan tindakan berbisnis yang diambil. Memang tidak semuanya, tapi saya menemukan banyak kasus-kasus yang membelokkan makna atau dan perilaku-perilaku yang jauh dari spiritual mode.

Di sebuah buku yang saya baca, seorang penulis yang bukan orang Indonesia, dari Amerika, justru menceritakan bahwa pola berpikir sufistik dalam dunia bisnis justru dimiliki oleh orang-orang yang dianggap sangat penting di sebuah perusahaan. Karena merekalah yang jauh lebih banyak menelurkan ide kreatif dan inovasi. Ya karena pola pikir mereka tidak terbatasi oleh analisa yang melulu matematis dan data. Mereka menggabungkan analisa data dan teori, emosi dan spiritual dalam menelurkan ide.

Dalam dunia sales dan marketing, saya bisa mengatakan bahwa masih sangat banyak diantara kita yang menggunakan insting dan dari pada sejumlah teori analisis yang pernah dipelajari. Saya yakin, anda yang pernah berulang kali membaca berbagai jenis teori pun tetap menggunakan insting saat anda melakukan penjualan bukannya secara 100% menggunakan teori tersebut. Karena mau tidak mau, anda bukanlah sebuah robot dengan modular chip yang berisikan teori dan perintah saja, anda mampu merasakan sesuatu, itu bedanya anda dengan robot dan mesin penjual.

Spiritual Intelligence bukanlah pola pikir kuno dan aneh, bukan pula selalu agamis dan Tuhanis. Hanyalah sebuah cara berpikir yang lebih flexibel dan lebih peka terhadap perubahan, yang lebih positif dan justru lebih dinamis dalam menerima pemahaman dengan pola kesadaran penerapan nilai dan makna.

 

Bagi mereka menjual adalah “Selling is about giving and serving, profit is by product.” Menjual adalah mengenai bagaimana si penjual memberi dan melayani konsumen, sedangkan keuntungan diperoleh dari produk yang dijual.

Sebuah nilai permaknaan yang luar biasa menurut saya daripada kita menjadi seperti mesin penjual atau robot yang melakukan servis tanpa perasaan. Perhatikan bagaimana munculnya Hug Me machine yang sudah dibuat oleh Coca Cola, para ahli dibalik layar mulai memasukkan perasaan kedalam mesin bahkan saat ini. Karena mereka sadar, bahwa jika sekedar menjual, ini hanya akan berakhir sebagai sebuah mesin.Tapi, mereka melibatkan bagaimana keserdasan emosi dan spiritual konsumen memberikan nilai.

Diawal saya sudah sebutkan mengenai Steve Jobs, dengan kemampuan zen-nya, membuat caranya berpikir menjadi unik dan berbeda dan akhirnya hingga saat ini pun, tanpa keberadaan Steve Jobs, perusahaan ini tetap menggunakan huruf “i” dan semboyan “Think Different”.

 

Spiritual Intelligence

Dengan spiritual intelligence, seseorang justru akan memiliki sudut pandang yang seharusnya jauh lebih luas tanpa keluiar dari batasan tanggung jawab. Salah besar jika selama ini kita mengartikan spiritual intelligence sebagai sebuah pendekatan kuno dan terlalu agamis. Artinya justru kita telah menutup diri.

Jika anda membuka situs media social seperti linked in dan facebook, anda akan lebih banyak menemukan para pemimpin perusahaan yang telah menerapkan mode spiritual intelligence sebagai bagian dari cara mereka berpikir, mengambil keputusan dan bertindak. Mereka mengerti benar tentang konsep self discovery atau pengenalan diri sebelum akhirnya dapat menjadi pemimpin.

Zohar & Marshall (2001) telah merumuskan makna kecerdasan spiritual (berpikir unitif) sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan spiritual adalah sesuatu yang dipakai untuk mengembangkan kemampuan dan kerinduan akan makna, visi, dan nilai. Mendasari hal-hal yang dipercaya dan peran yang dimainkan oleh kepercayaan maupun nilai-nilai dalam tindakan yang akan diambil. SQ merupakan kecerdasan tertinggi manusia. Indikasi-indikasi kecerdasan spiritual ini adalah kemampuan untuk menghayati nilai dan makna-makna, memiliki kesadaran diri, fleksibel dan adaptif, cenderung untuk memandang segala sesuatu secara holistik, serta berkecenderungan untuk mencari jawaban-jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya.

Pengalaman hidup yang dialami oleh para tokoh-tokoh pemimpin tidak pernah mudah, dan hal tersebut yang pada akhirnya membantu mereka, membimbing mereka untuk membuka diri pada spiritual path atau jalur spiritual kepemimpinan. Kini, jalur tersebut dibawa, dipelajari dan diterapkan pada ranah bisnis, dan sebagaian besar dari mereka mengalami perubahan hidup yang luar biasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s