#Mind Management: “I Love…”


Beberapa waktu lalu saya membuka tulisan lama saya yang berjudul, “I Love…”. Saya pikir itu tulisan apa, ternyata sebuah proposal Mind Management Training yang pernah saya ajukan untuk salah satu program studi di salah satu kampus di Solo sekitar 4-5 tahun yang lalu.

Ya, “I Love…”, “I Like…”, “I Want…”…sepertinya sejenis.

Transform the negative into positive…tertulis paling atas dibawah judul dari proposalnya.

Memang benar, setiap hari, setiap waktu, kita lebih banyak ter-ekspos oleh kenegatifan. Rasanya selalu ada yang memancing, mengundang, sengaja atau tidak sengaja, kadang merasa diajak, dibujuk, dan tiba-tiba blaaam kita sudah masuk dalam kenegatifan yang tidak sengaja.

Mari kita tarik mundur pikiran kita, seberapa sering kita menahan marah daripada mensyukuri? Seberapa sering kita meledak-ledak, berpikir negatif, berprasangka buruk, merasa down dan tidak semangat, merasa ogah ngantor…daripada kita tiba-tiba merasa semangat, banyak berbagi senyum, berangkat ke kantor lebih pagi dan pulangh sedikit larut saking enjoynya kerja…daripada sekedar ngelus dada karena merasa lebih baik menyimpan di hati perasaan dongkol dan tidak terima.

Lalu coba lihat lingkungan, seberapa besar kenegatifan itu sering blusukan ke otak kita. Kita mencoba menyapa dengan senyuman, eh si Bos lagi manyun, si A ngedumel, dan berbagai jenis aduh yang tersurat dan tersirat.

Pola pikir dan tindakan negatif ini mudahnya seringkali muncul dalam kebiasaan ngobrol atau berbincang kita setiap hari. Sebagai contoh, pada saat kita bertanya kabar pada seseorang, yang kita perhatikan, yang kita serap bukanlah kondisi nyata dari jawaban orang tersebut, “Oh, kabarku sangat buruk sekali hari ini!”, “Rasanya lelah, capek sekali hari ini!”, “Pusing aku mikir hutang terus!”, dan lain sebagainya. Mengapa setiap orang lebih mudah untuk memperbandingkan kondisi diri mereka sendiri pada sesuatu yang bernilai negative, dari pada positif dan baik? Bukankah akan lebih baik jika jawaban pertanyaan kita tadi adalah, “Saya merasa sangat energik, sangat gembira, sangat sehat!”.

Perhatikan kebanyakan orang menjawab, “Saya tidak terlalu menyukai ini” dan “Saya tidak suka itu”. Selalu ada terselip kata “tidak” dibalik apa yang mereka sukai, dan hal ini adalah digunakan sebagai pembanding. Sekali lagi perhatikan pada komunikasi kita dengan lingkungan kita, dan buktikan bahwa observasi saya tidaklah salah.

Selain komunikasi verbal dengan lingkungan, media seperti televisi dan surat kabar “bisa” jadi salah satu penyuplai bentuk masukan negatif bagi kita. Singkat saja, mari ambil satu kalimat dari salah satu iklan, “Sudah masuk musim flu, jadi siapkan diri kita jika kita nanti terjangkit penyakit flu dengan obat ini”, “Orang pintar minum XXX”. Pihak perusahaan pengiklan sebenarnya hanya menginginkan kita untuk mendapatkan produk mereka, menempatkan produk mereka sebagai pilihan pertama bukannya mengharapkan kita untuk sakit flu, sehingga mereka akan dapat mengambil keuntungan dari hal tersebut. Hal yang sebenarnya adalah, tidak ada yang disebut musim flu, sehingga kita tidak perlu terjangkit penyakit tersebut.

Hal yang sama terjadi pada media cetak seperti majalah, koran dan lain sejenisnya. Pemberitaan yang terjadi dan ada pada media cetak memberikan dosis besar negatif dengan hampir semua pemberitaan mengatakan terjadi sesuatu yang salah di suatu tempat, oleh seseorang,  atau pada suatu situasi tertentu. Padahal sebenarnya berita tersebut adalah sebagai informasi, tetapi sekali lagi, pikiran bawah sadar kita tidak bisa membedakan mana negatif, mana positif, semuanya ditelan secara mentah.

Kita tidak bisa menghindar, karena kehidupan saat ini sarat informasi, tersirat ataupun tersurat, dalam bentuk visual ataupun audio. Jadi pekerjaan utama pikiran sadar kita adalah untuk memberikan daya positif berupa sugesti dan masukan secara langsung pada pikiran bawah sadar peserta melalui dosis yang mengandung kekuatan sangat besar, sangat positif yang ada dalam hidup kita, dengan kekuatan cinta dan afirmasi.

Pada tulisan berikutnya, saya akan coba ulas lebih dalam mengenai bagaimana mentransformasikan energi negatif menjadi sebuah energi positif, dari pola pikiran negatif menjadi pola pikiran positif, dari sebuah bentuk kelesuan  menjadi sebuah semangat.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s